Kisah Mushab bin Umair

Mengenal Mushab bin Umair

Mushab bin Umair adalah anak dari Umair bin Hashyim dan Khunnaas binti Malik. Ia tergolong bani Abd Ad-Dar. Orang tuanya merupakan orang kaya dan terhormat, sehingga Mushab sejak kecil hidup berkecukupan, atau bahkan bisa dibilang penuh kemewahan. Ia selalu dapat mengenakan baju yang bagus dan mahal.

Tapi tidak sekedar itu saja, sebagai pemuda, ia dikenal memiliki budi pekerti yang baik dan sangat cerdas. Karena itu, ia sering diizinkan ikut pertemuan petinggi-petinggi quraisy, meskipun usianya masih sangat muda. Dengan begitu, ia dapat dengan cepat mengetahui isu-isu yang sedang berkembang di Makkah.

Islamnya Mushab bin Umair

Suatu hari, tersiar kabar di Makkah tentang nabi Muhammad dan ajaran yang dibawanya.  Ketika petinggi-petinggi quraisy sibuk melakukan berbagai cara untuk menghalangi dakwah nabi, Mushab justru tertarik untuk bertemu dengan nabi, karena yang selama ini ia tahu, nabi Muhammad adalah Al-Amin, sosok yang sangat dipercaya, namun tiba-tiba saja petinggi quraisy mati-matian menjelek-jelekannya.

Mushab mulai menyelidiki dimana tempat nabi dan para sahabatnya berkumpul, yang akhirnya ia ketahui bahwa nabi dan para sahabatnya berkumpul di rumah Arqam. Ia pun pergi ke sana untuk mendengar sendiri ajaran apa yang dibawa oleh nabi Muhammad. Ia mendengar ayat-ayat al-Quran dibacakan, dan segeralah tergerak hatinya untuk memeluk islam. Diperkirakan usianya 24 tahun pada saat masuk Islam. Ia termasuk generasi awal kaum muslimin yang dibina nabi Muhammad di darul Arqam.

Mushab menyembunyikan keislamannya kepada orang-orang. Ia mendatangi Nabi dengan sembunyi-sembunyi. Namun, suatu saat, Utsman bin Thalhah melihat Mushab sedang melakukan shalat, kemudian ia melaporkannya ke ibu Mushab. Mengetahui itu, ibunya membujuk Mushab agar tetap beragama seperti agama kaumnya, namun tentu saja Mushab enggan. Ibunya marah besar dan Mushab di kurung di dalam rumahnya.

Tetapi Mushab akhirnya bisa melarikan diri. Dia bergabung dengan kelompok Islam yang hijrah menuju Habasyah. Setelah beberapa tahun, Mushab kembali ke Mekah bersama sekelompok Muslim lainnya.

Semenjak keislamannya diketahui, Mushab tidak lagi mendapatkan fasilitas dan kenyamanan sebagai anak orang kaya. Ia justru harus menanggung berbagai kesulitan hidup karena memegang teguh keyakinannya pada Islam. Ia sudah diusir dari rumahnya, dan tidak diakui lagi sebagai anak oleh ibunya. Tapi itu semua tidak membuat Mushab menyerah.

Suatu ketika ia medatangi pertemuan dengan Rasulullah. Ia tidak lagi mengenakan baju-baju bagus seperti yang dipakainya dulu. Ia hanya mengenakan baju yang penuh tambalan. Rasulullah pun berkata,

Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, ke­mudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.

 
Duta Islam di Madinah

Saat dakwah islam mulai sampai ke telinga penduduk Yatsrib, enam orang jama’ah haji datang menemui Rasulullah. Mereka menyatakan keislamannya kepada Nabi. Sekembalinya ke Yatsrib, mereka mendakwahkan Islam yang mereka terima dari Rasulullah.

Musim haji tahun berikutnya, jumlah yang mulanya enam orang ini bertambah menjadi dua belas, lima orang dari jemaah tahun lalu, sisanya adalah orang baru yang menyatakan keislamannya. Mereka pun meminta Rasulullah mengutus salah seorang dari sahabat beliau di Mekah untuk mengajar Islam dan menjadi imam di Yatsrib. Sebab, suku Aus dan Khazraj keberatan salah seorang mereka menjadi imam bagi lainnya.

Nabi pun memilih Mushab bin Umair untuk menjalankan tugas tersebut. Saat itu, diperkirakan usia Mushab diantara 33-35 tahun. Sebenarnya, di kalangan sahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mushab. Tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada Mushab.

Di Yatsrib, Mushab tinggal bersama As’ad bin Zararah. Bersama As’ad, Mushab mendatangi berbagai kabilah dan rumah-rumah untuk mengajak mereka memeluk Islam. Saat berdakwah pada kabilah Abdul Asyhal, ia sempat disergap oleh Usaid bin Hudlair, pemuka kabilah tersebut, karena dianggap membuat kaumnya menyeleweng dari agamanya.

“Kenapa kalian datang kepada kami membodohi orang lemah kami? Pergi kalian dari kami, jika kalian masih sayang kepada nyawa kalian!”

 “Tidakkah Anda duduk sejenak, mendengar dari kami. Jika Anda menyukainya, Anda terima, jika tidak, kami akan menuruti kemauan Anda.”

 “Baik, ini adil.”

Mushab pun kemudian menjelaskan ajaran Islam, dan membacakan beberapa ayat, Usaid kemudian berkata,

 “Alangkah baik dan bagusnya ucapan ini. Apa yang kalian lakukan jika kalian ingin masuk ke dalam agama ini?”

 “Engkau mandi, bersuci, menyucikan bajumu, lalu mengucapkan syahadat yang benar, kemudian engkau shalat.”

Usaid pun akhirnya menyatakan keislamannya. Setelah itu, ia teringat dengan sahabatnya, Sa’ad bin Mu’adz,

“Sesungguhnya di belakangku ada seseorang yang jika ia mengikutimu, tidak akan tertinggal seorang pun dari kaumnya. Aku akan mempertemukannya dengan kalian.”

Usaid kemudian pergi menemui Sa’ad bin Mu’adz. Ia sangat ingin agar Sa’ad dapat mendengarkan pula apa yang disampaikan Mushab. Ketika Sa’ad sampai dihadapan Mushab, ia melihat As’ad yang masih merupakan saudaranya dan berkata,

 “Abu Umamah (panggilan kehormatan As’ad bin Zurarah)! Demi Allah! Andai bukan karena kekerabatan antara engkau dan aku, engkau tidak akan merasakan kelembutanku. Kenapa engkau melakukan apa yang kami benci?”

Mushab kemudian berkata,

“Tidakkah Anda duduk dan mendengarkan kami dahulu? Jika Anda suka, silakan terima, jika tidak, kami akan menghilangkan kebencian Anda.”

“Baik, ini adil.”

Mushab pun kemudian menjelaskan ajaran Islam, dan membacakan beberapa ayat, Sa’ad pun menjadi terbuka hatinya menerima islam,

 “Apa yang kalian perbuat jika masuk Islam?”

”Engkau mandi, bersuci, menyucikan baju, lalu bersyahadat yang benar, dan shalat dua rakaat.”

Dengan islamnya Sa’ad dan Usaid, dua tokoh besar kabilah Abdul Asyhal, maka pada sore harinya, seluruh kabilah Abdul Asyhal berbondong-bondong masuk Islam. Ada pula yang mengatakan, hari itu sebagian besar suku Aus dan Khasraj telah memeluk islam. Masuknya mereka ke dalam Islam menjadikan Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk Madinah.

Disini, terlihat bagaimana metode dakwah Mushab yang sangat luar biasa. Ia berhasil menghadapi orang yang menentang dakwahnya yang datang kepadanya dengan keadaan sangat marah, meresponnya dengan tenang, dan menyampaikan islam dengan begitu indah, sehingga orang tadi justru terbuka hatinya untuk memeluk islam. (**Penasaran dengan apa yang disampaikan Mushab ketika itu, tapi nyari kemana-mana belum ketemu)

Mushab telah berhasil mengemban tugas membangun masyarakat untuk menjadi basis kekuatan Islam. Masyarakat yang kemudian dikenal dengan sebutan kaum Anshar, karena sikap mereka yang senantiasa membela Nabi dan dakwahnya. Masyarakat yang rasa persaudaraan dan kasih sayangnya kepada Kaum Muhajirin sangat kuat, yang bahkan rela mengorbankan apa yang mereka milik demi kebaikan saudara mereka yang baru datang dari Mekah

Shalat jumat pertama

Seiring berkembangnya dakwah islam di madinah, kaum yahudi mulai merasa khawatir. Setiap hari sabtu, mereka mengadakan pertemuan di tengah keramaian untuk menyiarkan ajaran mereka. Mendengar berita ini, Rasulullah segera mengirimkan perintah kepada Mushab bin Umair,

Amma ba’du, perhatikanlah pada hari ketika orang-orang Yahudi mengumumkan untuk membaca kitab Zabur di hari Sabat-nya! Jika matahari telah tergelincir di tengah siang hari Jum’at, menghadaplah kepada Allah dengan shalat dua raka’at dan sampaikanlah khutbah kepada mereka.

Setelah mendapatkan perintah itu, mushab pun mengumpulkan seluruh kaum muslimin di tempat bernama Hazmun Nabit, setelah berkumpul, mereka mengerjakan shalat dua rakaat. Menurut suatu riwayat, pertama kali orang yang berkumpul ini berjumlah 40 orang, menurut riwayat lain hanya 12 orang. Inilah shalat jumat yang pertama dilaksanakan oleh umat islam. Kemudian, setiap hari jumat siang, kaum muslimin senantiasa melakukan hal yang sama.

Wafatnya Mushab bin Umair

Ketika terjadi perang Uhud. Mushab bin Umair tak mau ketinggalan untuk berjihad membela agama Allah. Beliau diamanahi Rasulullah untuk membawa panji kaum muslimin pada perang itu.

Meskipun awalnya kaum muslimin terlihat unggul, karena kelalaian dan ketidaktaatan beberapa oknum prajurit, akhirnya kondisi kaum muslimin pun terdesak. Nabi Muhammad bahkan berada dalam keadaan yang sangat berbahaya.  Sebagian besar prajurit pada waktu itu melindungi Nabi Muhammad.
Mushab, yang pada waktu itu memegang bendera muslimin di barisan depan, berpikir dengan cepat. Ia berlari ke tempat yang berlawanan arah dengan Nabi Muhammad dengan maksud menarik perhatian lawan. Dan Mushab pun berhasil menarik perhatian lawan, sehingga hampir semua pasukan kafir Quraisy menuju ke arahnya.

Namun, pada akhirnya, Mushab bin Umair syahid pada perang tersebut. Ia terbunuh di tangan seorang musyrik yang bernama Ibnu Qami`ah dan dia menyangka bahwa yang dia bunuh adalah Rasulullah.

Mush’ab bin Umair wafat dengan hanya meninggalkan namirah (sejenis pakaian dari wol yang biasa dipakai kaum rendahan). Jika namirah tersebut dipakaikan untuk menutupi kepalanya, kakinya kelihatan, dan jika dipakaikan untuk menutupi kakinya, kepalanya yang terlihat.

Rasulullah pun memerintahkan,

“Tutupkanlah pada kepalanya dan tutuplah kakinya dengan rumput idzkhir.”

Kemudian Rasulullah berkata,

“Ketika Mekah dulu, tak seorangpun ku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripada Mush’ab bin Umair. Kini rambutnya kusut masai, hanya tertutup sehelai kain burdah…”

Sumber:

Khalid Muhammad Khalid, Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah, Penerbit Diponegoro, Bandung
Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh : Jilid 1, Penerbit Gema Insani, Jakarta
Nizar Abazhah, Sekolah Cinta Rasulullah, Penerbit Zaman, Jakarta
http://hanifatunnisaa.wordpress.com/2012/12/17/mushab-bin-umair-cahaya-hidayah-di-negeri-hijrah/
http://en.wikipedia.org/wiki/Mus%60ab_ibn_%60Umair
http://buletinmitsal.wordpress.com/sosok/mush%E2%80%99ab-bin-umair/

2 thoughts on “Kisah Mushab bin Umair

  1. Pingback: Kisah shahabat | terusmajujalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s