What a people

Tenang, ini bukan cerita tentang pergulatan batin saya dengan kucing lagi, I think I need a little break from that ‘thing’.. Hehe..

———————-

Pagi ini, ketika saya berangkat ke kampus, jalanan terlihat lebih padat dari biasanya. Tapi yg anehnya adalah, yg macet panjang itu hanya satu lajur saja. Jadi kan jalannya di arah yg sama itu ada dua lajur, yg lajur sebelah kirinya (untuk yg akan lurus/belok kiri) macet panjang sedangkan yg sebelah kanan nya (untuk yg akan belok kanan) kosong. Ya, mungkin mereka semua ingin belok kiri atau lurus di persimpangan berikutnya (yg padahal jaraknya masih beberapa ratus meter lagi). Tapi mobil-mobil yg terjebak kemacetan itu seolah tak berminat berpindah lajur untuk membebaskan diri dari kemacetan. Bahkan motor pun ikut tertib dalam kemacetan itu (motor yg sepemahaman saya sangat handal dalam kemampuan nyelipnya). Padahal kan bisa saja pindah ke kanan dulu, nanti kalo udah dekat simpangnya pindah ke kiri lagi, ato bahkan mungkin langsung belok kiri/lurus saja, seperti yg biasa saya temui di my lovely country. But people here, just do not do that.

——————–

Kemarin ketika saya akan kembali ke lab setelah beres shalat, saya melihat laptop tergeletak begitu saja d atas meja di ruang terbuka, tanpa ada satu orang pun di radius 15meter dari laptop itu. Sampai2 teman saya dari aljazair berkata “if you do that in my country, you will never see your computer again”.
Saya tidak mau menimpalinya dengan apa yg akan terjadi in my lovely country.
But people here, they just do not do that.

——————-

Seperti yg saya tulis sebelumnya, saya sangat sering bertemu anjing yg sedang dibawa jalan2 oleh pemiliknya. Pemiliknya biasanya selalu membawa tas kecil. Kadang mereka berhenti karena si anjing ingin buang air besar. Setelah si anjing selesai bab, pemiliknya mengeluarkan plastik dari tas kecilnya, lalu memungut kotoran anjingnya tadi.😯
Dan saya melihat itu tidak hanya sekali.

——————

Beberapa minggu yg lalu, departemen/prodi saya mengadakan barbeque party. Awalnya saya sudah hopeless ga akan bisa makan apa-apa, paling dateng doang buat ngeramein suasana. Ada 2 orang lagi mahasiswa asing yg muslim juga ikut acara itu.
Tapi kemudian salah satu mahasiswa jepang datang, bilang kalo mereka juga beli seafood, jamur-jamur, dan banyak sayur, dan mereka mengkhususkan satu set pemanggangan dan alat-alat masaknya khusus buat kami yg muslim… Huaaa terharu..😥
Tidak cuma itu, ditengah acara, ada mahasiswa jepang juga yg memasak mie, dan dia ingin semua bisa mencicipinya. Dan dia sampe memperingatkan berkali-kali ke teman-temannya agar tidak memasukkan bahan-bahan yg kami tidak boleh makan atopun make alat masak yg bekas mereka pakai, dengan nada keras, kayak marah gitu bahkan. Terus pas udah jadi, dia mastiin lagi ke setiap orang yg ikut serta dalam pembuatan mie itu, nanyain satu-satu kalo mereka ga masukin bahan yg ga halal dan ga make peralatan masak bekas. Setelah dipastikan, barulah dia mempersilakan kami mencicipi..
Huaaa…ini saya terharu banget dengan usahanya, yg bahkan mungkin saya sendiri belum berusaha sekeras itu.😥

——————

Pernah suatu saat saya sedang duduk di kereta, ada nenek-nenek yg tidak kebagian tempat duduk. Lalu saya berdiri mempersilahkan sang nenek untuk duduk. But then, she reply the favor even more. Dia berterima kasih kemudian duduk. Saya pikir akan berakhir disini saja, tapi ternyata tidak.
Ketika ada orang yg turun dan ada kursi yg kosong disekitarnya, dia akan berusaha memastikan saya untuk duduk disitu. Bahkan dia sampai berdiri lagi untuk memanggil saya😯
Ketika saya sudah duduk, dia mengajak saya ngobrol, cuma karena dia tidak bisa berbahasa inggris, dan saya pun tak bisa bahasa jepang, akhirnya kita lebih banyak menggunakan bahasa tubuh dan tertawa-tertawa saja. Yg bisa saya tangkap dia bertanya asal saya dari mana, dan saya mau kemana. Selebihnya saya ga nangkep.. Haha..
Dia kemudian turun duluan, dan kembali berterimakasih dgn ungkapan yg sangat sopan dan ramah.. Huaaaa..
Setidaknya eksperimen saya terhadap dua nenek2 disini menunjukkan hasil yg mirip. Saya sangat suka dengan nenek-nenek disini.😀

——————

Itu baru sebagian hal kecil yg saya amati, ada banyak lagi sebenarnya, tapi postingan ini rasanya sudah terlalu panjang.. Haha

Seringkali ketika melihat mereka, saya jadi malu dengan diri saya sendiri.😥
What a people…

9 thoughts on “What a people

  1. Pingback: やくそく | an afterthought

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s