Tak ada yang abadi

flowers-wind-luck-dandelion-wallpaper2*judulnya mellow banget yak*

Sesuatu telah terjadi hari ini. Sesuatu yang akan mengubah segalanya, mengubah hidup saya. Bisa jadi, hari ini adalah titik balik bagi saya. Semua tak akan sama lagi setelah hari ini.😥

Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, saya sangat suka mencoba-coba detergen disini karena terpukau oleh wanginya. Saya biasa mencuci dengan mesin cuci mandraguna yang ada di apato saya.
Mesin cuci yang tinggal masukin baju, masukin deterjen, tutup, tunggu 30menitan, pindahin ke pengeringnya, tutup, udah deh langsung kering bersih harum semerbak mewangi.
Momen-momen membawa pakaian kering ke kamar yang dilanjutkan dengan melipat pakaian adalah momen yang senantiasa saya tunggu. Wangi fresh pakaian yang baru dicuci ini benar-benar mendamaikan hati dan pikiran saya. Apalagi pas ganti detergen, sensasi wanginya berbeda dari biasanya, aaahhh…
Susah sekali mengungkapkan perasaan ini dalam kata-kata.

Nah tapi, lama-kelamaan saya mulai merasakan keanehan pada pakaian-pakaian saya. Mulai banyak pakaian saya yang terasa mengecil, padahal rasanya saya sudah lewat usia masa pertumbuhan deh. Selidik punya selidik, ternyata katanya pengering pakaian itu tidak bagus digunakan untuk beberapa jenis bahan pakaian. Kalo bahannya woll, bisa-bisa jadi berbulu-bulu, dan untuk bahan-bahan tertentu bisa jadi menciut. Well, saya tidak begitu mengerti prinsip kerja pegeringnya sih, sepertinya cuma menipukan udara panas, memutar-mutar pakaian, dan mengatur sirkulasi udaranya. Mungkin masalah pemanasan ini yang berdampak buruk bagi pakaian berbahan tertentu.

Akhirnya hari ini saya memutuskan untuk menjemur pakaian. Jadi setelah dicuci, tidak saya masukkan pengering itu, tapi saya jemur, kembali ke metode konvensional. Kebetulah hari ini cuacanya cerah, jadi sorenya (malam sih tepatnya) udah kering.

Daaannnn, saya kecewa…

Sensasi wangi yang biasa saya rasakan ketika membawa pakaian bersih ke kamar, dan ketika melipatnya, tidak saya rasakan lagi..😥
Saya pun sibuk mengendus-ngendus pakaian saya mencari sisa-sisa wewangian yang masih melekat, ada, tapi sangat minim.
Saya pun menyadari, saya telah kehilangannya. Ternyata wangi detergen itu tidak abadi. Terik matahari dan angin sepoi-sepoi saja telah cukup untuk membawanya pergi meninggalkan saya.

Ya, sepahit apapun, itulah realita yang harus saya hadapi. Mungkin ini hanya sebagian kecil saja. Masih ada banyak hal lain dalam kehidupan ini yang sifatnya sangat sementara. Jangan sampai kita terbuai pada sesuatu yang tak abadi..

Image taken from : http://cirkelart.dk/wp-content/flowers-wind-luck-dandelion-wallpaper2.jpg

9 thoughts on “Tak ada yang abadi

  1. Beuh, awak juga tipe anak yang cucian harus wangi lho, pake banget lagi, awak mengerti banget perasaan maneh ad.😐
    Tapi, ada yang bisa melar jg lho untuk bahan tertentu. Trus, kalo awak walopun dikeringin pake mesin pengering, masih tetep dijemur, dan masih tetep wangi2 aja tuh. Maneh kelamaan kali ngejemurnya? Apa kepanasan? Apa pewanginya kurang? Heheu, sudahlah.😐

  2. Saran:
    Jemur pakaian di dalam kamar pas musim dingin kayak gini.
    Berfungsi sbg humidifier di kamar.
    (Pertama kali tau dari mas bayu, terus sempet ngintip kamar tutor sy yg org jepang. Ternyata dia ngegantungin baju di kamar abis ngangkat dr mesin cuci.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s