Menggali Akar

Sebenarnya postingan ini hanya pelarian dari kehectican yang sedang saya alami saat ini. Entah kenapa di momen-momen hectic seperti ini, terlalu banyak ide-ide segar yang berseliweran di otak saya, sayangnya tidak satupun terkait dengan apa yang seharusnya saya kerjakan (namanya juga pelarian)

Selama ini, sepertinya saya sangat jarang menaruh perhatian serius terhadap apa apa yang ada dan terjadi di sekitar saya. Akhirnya, ketika hal itu diperlukan, kayak misalnya ada orang yang bertanya tentang sesuatu yang saya sebenarnya telah hidup bertahun-tahun dengannya, tetap saja saya tidak bisa menjelaskan. Hal ini sudah terjadi sejak zaman dahulu kala, tapi entah kenapa hati saya masih belum terbuka juga untuk menggali akar kehidupan saya, hingga saat ini (dimana seharusnya saya fokus mengerjakan yang lain, heu tapi yasudahlah ya, apamaudikata)

*ini postingan harusnya diproteksi si, terlalu banyak info pribadi soalnya..hehe, tapi ada info umum juga (terus jadi galau)😕

1. Silsilah
*di-ilangin*
kayaknya terlalu personal deh yang bagian ini (gaya beut..hehe), intinya part ini melahirkan : (todolist1)

2. Tentang Minang
Ada sesuatu yang menarik banget dari adat minang ini, terutama semboyannya “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”.
Menurut saya ini super keren banget, walaupun pada level pelaksanaannya banyak yang bilang ga sesuai, well debatable si sebenernya. Tapi tatanan masyarakat yang memiliki niat untuk mendasarkan kehidupannya dengan kitabullah itu bener-bener sesuatu banget menurut saya, dan itu bertahan sampai sekarang (setidaknya semboyannya).
Dan ini mengantarkan saya pada perasaan bersalah saya berikutnya.
Meskipun terlahir di keluarga minang asli (ayah dan ibu saya orang minang, dan masih sering berbicara bahasa padang di rumah), dan hampir setiap tahun mudik ke padang, tapi pengetahuan saya tentang seluk beluk adat minang ini sangat teramat minim sekali.
Beberapa hari terakhir, saya mengeksplore sedikit-sedikit tentang ini via google (bayangkan secacat apa ke’minang’an saya sampe akhirnya harus nyari-nyari ini dari google, tapi tar saya verifikasi ke sanak-sanak sadonyo juga deh *mudah-mudahan*). Ada dua hal yang sangat menarik perhatian saya untuk diselidiki lebih dalam (tapi kayaknya sekarang belum sempat saya nulisin hasil “riset” saya ini, jadi baru link-link nya dulu aja), yaitu:

1. Suku-suku dan sistem matriliniealitas
https://lubukgambir.wordpress.com/2010/02/27/suku-suku-di-minangkabau/
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Mandailiang

2. Adat pernikahan
http://dodolnanas.blogspot.jp/2012/10/tradisi-pemberian-uang-japuik-dalam.html
https://bundokanduang.wordpress.com/category/d-adat-dan-tata-cara-perkawinan/

*spoiler : sistem dan adat minang ini walau sepintas terlihatnya aneh dan terasa sedikit bertentangan dengan agama, ternyata ada alasan filosofisnya yang tak jarang justru disarikan dari ajaran islam (ceunah). Makanya butuh mencari tahu lebih lanjut dan tidak tergesa-gesa menjustifikasi.
**mudah-mudahan nanti sempet saya bahas deh, jadi ga cuma link-link doang (todolist2)

3. Tentang Jambi
Tujuh belas tahun lamanya saya menetap di kota ini, tapi apa yang saya ketahui tentang jambi? Lagi-lagi, sangat minim. Saya selalu salut dengan ayah saya yang kayak benar-benar hapal seluk beluk kota ini (tapi entah kenapa saya ga ada usaha buat bisa tau juga, yang ada cuma mengandalkan orang lain terus). Kayaknya saya cuma tau area sekitar sekolah-rumah aja. Haduh.

Ya mengingat jambi adalah kota yang tidak terlalu terkenal, bahkan oleh orang indonesia sendiri (dan terlebih orang luar), sudah sepantasnya saya menjadi duta kota (halah) yang sudah mengisi 17 tahun kehidupan saya ini (ya at least tau lah kalo mau ngerekomendasiin gimana, jangan malah dilempar ke bali ato bandung..hahaha)
Tempat (yang mungkin cukup) menarik:
1. Candi Muaro Jambi
Saya pernah kesini waktu TK, ga terlalu jauh dari pusat kota. Katanya komplek candi terluas se asia tenggara (citation needed). Terus juga masuk list UNESCO World Heritage (tapi tentative list si, gatau maksudnya apa..haha)
2. Sungai batanghari dan ancolnya dan tanggo rajo
Sungai terpanjang se sumatra ceunah. Terus ada tempat pinggir sungai yang (lumayan) bagus buat nongkrong sama banyak jajanan bernama ancol, sama ada monumen(?) tanggo rajo, saya pernah foto disini waktu kecil. Sama dari ancol ini bisa ngeliat wilayah seberang (nama daerahnya gitu karna letaknya disebrang sungai)
3. Masjid Al-Falah
Ini SDnya (di komplek masjid juga) terkenal banget paling jago waktu zaman saya dulu, lawan berat LCT..haha. Masjidnya ini terkenal dengan julukan masjid 1000 tiang, karena emang tiangnya banyak banget dan ga ada dindingnya.

Kuliner:
1. Duku, rambutan, durian
Ini banyak banget dijual dipinggir jalan kalo lagi musimnya. Duku sama durian jambi ini juga katanya terkenal banget (walopun saya ga suka durian).
2. Tempoyak
Semacam gulai pake durian yang difermentasi.
3. Pempek
Ini makanan sengketa jambi sama palembang, yang sampe menimbulkan isu perang ~_~
4. Makanan lainnya
Saya gatau ini khas atau ngga, tapi sering ada tulisan oleh-oleh khas jambi nya : dodol kentang, keripik bayam, rambutan goreng, dsb (macem-macem si sebenernya)

*pembahasan masi alakadarnya banget, kudu revisi banget ini kayaknya (todolist3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s