Trip Barat Laut – Part 1 : Karuizawa

1
Ceritanya, liburan musim dingin ini, saya dan 3 orang teman saya udah komitmen mau jalan-jalan bareng pake seishun 18 kippu (sama seperti trip ke kansai yang saya lakukan tahun kemarin). Setelah melewati “drama” yang mengancam rencana ini, dan perdebatan alot mengenai pilihan tempat (mengingat 2 dari kami bergolongan darah B yang lumayan keras kepala..haha), akhirnya jadi juga trip musim dingin dengan tujuan utama daerah barat laut jepang : Niigata.

Tujuan ini (sepengamatan saya) bukan tujuan yang populer dikunjungi turis2, dan sangat minim informasi atau blog2 yang membahas tentangnya. Beda banget dengan kyoto, hokkaido, hiroshima, atau tempat-tempat terkenal lainnya. Biasanya orang2 ke niigata pun juga untuk main ski, yg samasekali bukan niatan kami. Terus ngapain kesana dong? Biar anti mainstream aja.. Haha…
Sebenarnya semua ini karna terlalu banyak request dari masing-masing kami (saya yg paling banyak sih😛 ), misal:
– Bukan kyoto, shirakawago, atau kanazawa
– Bisa ditempuh kereta ga lebih dari 1 hari
– Gamau kalo cuma wisata temple/shrine/castle aja
– Max total cost 20.000yen
– dan lain sebagainya

Dan tempat yang bisa mengakomodir itu semua turns out to be Niigata (kok kayak terpaksa banget..haha).
Tapi setelah saya mengunjungi tempat ini, ternyata tempatnya sangat waww banget, wisata alamnya luar biasa dan bikin mewek (apacoba), highly recommended lah buat orang yang udah “rada bosen” sama trio temple-castle-shrine seperti saya ini😀

Total trip 3 hari 3 malam, dan tulisan ini akan saya bagi 3 sesuai hari:
Part 1 : Tokyo – Karuizawa – Niigata
Part 2 : Niigata
Part 3 : Niigata – Minakami – Takasaki – Tokyo
———-
Hari pertama kami mulai dengan berkumpul di stasiun JR terdekat dengan tempat tinggal kami, nagatsuta station, jam 6 pagi (dingin bok). Untung ga ada satupun yang telat, karna sedikit ketelatan saja bisa menghancurkan seluruh rencana (di rute kami ada kereta yang cuma jalan sehari 3 kali, udah kayak minum obat aja).

Kereta pagi beneran padat luar biasa, karena kami berjalan ke arah tokyo. Kegenjet sana sini, dan saya sampe sakit pinggang karena berpose salah ketika didempet dari segala arah. Lebih drama lagi, pas transfer kereta, nyaris salah satu diantara kami ga muat lagi buat masuk kereta, dan dia cuma berdiri diluar dengan tatapan pasrah -__-. Untung kami cukup gigih mepet sana sini sampe akhirnya dia bisa nyelip..hahaha

Setelah melewati tokyo, barulah kereta menjadi lega, dan kami bisa duduk di kursi dengan format 2-2 hadap-hadapan. Jadi kami punya space privat berempat. Berpergian dengan 4 orang (atau kelipatannya) sepertinya memang konfigirasi yang paling efektif untuk perjalanan jauh dengan kereta lokal seperti ini.

Di dalam kereta, kami menghabiskan waktu dengan main kartu-makan-main kartu lagi-makan lagi-main kartu sambil makan-dan begitu seterusnya..hahaha. Dan singkat cerita sampailah kami di yokokawa, untuk kemudian naik bis ke karuizawa.
Karuizawa ga bisa ditempuh langsung dengan kereta JR biasa, bisanya kalo pake shinkansen. Jadi untuk kesana, kami kudu nyambung pake bis dari yokokawa yang ga di cover tiket seishun 18kippu.

Karuizawa
20151230_125435000_iOS
Karuizawa terkenal dengan tempat belanja branded dan area ski nya, selain itu juga ada air terjun yang unyu.
Sambil menunggu bis untuk ke air terjun, kami berkeliling di sekitar stasiun karuizawa ke arah utara, sekaligus cari-cari tempat makan. Daerah sekitar stasiun ini beda banget suasananya dengan tokyo dan jepang-jepang lain, sedikit lebih westernized. Sayangnya nyari makan ga gitu gampang, kebanyakan yang ada warung soba-udon yang cukup mahal. Akhirnya, kami memutuskan makan soba-udon di stasiun saja yang harganya jauh lebih murah (dasar mahasiswa).

Shirato no taki
20151230_135407000_iOS
Perjalanan bis ke shirato no taki (shirato waterfall) mainly mendaki selama setengah jam di daerah hutan-hutan yang daunnya udah berguguran semua. Sebenernya kalo mau sekalian hiking juga bisa (ga usah naik bis), karna ini memang area hiking, tapi (yuknowlahya : males..haha). Sepanjang perjalanan juga ada beberapa gereja, hotel, dan vila-vila yang bentuknya unik-unik.

Shirato no taki ini sebenernya ukurannya ga gede-gede banget, tinggi cuma 3 meter, tapi sangat unik karna dia bukan dari aliran sungai, tapi dari rembesan air. Dan kalo di foto, entah kenapa bagus banget (dilihat pake mata juga bagus si..hehe). Kekurangan tempat ini, menurut saya, adalah minimnya objek wisata sampingan atau sekedar toko souvenir di sekitar area itu. Padahal jadwal bis mengharuskan kita stay disana minimal 1 jam. Cuma ada satu toko yang buka pas saya kesana, jadi lumayan ada waktu “krik-krik” nya juga.

Prince shopping plaza
Kembali ke stasiun karuizawa, kami menuju kawasan shopping dan belanja yang ada di sebelah selatan stasiun. Tempat belanja ini sangat terkenal terutama buat tante tante sosialita yang hobi ngoleksi barang-barang branded. Dan benar saja, kawasan belanjanya luas banget dengan puluhan (ato mungkin malah ratusan) toko eksklusif untuk tiap merk. Dan ternyata, ga cuma brand2 mahal aja yang ada, brand low cost, seperti tas yang saya pake, juga ada tokonya sendiri di area ini. Dan kalo saya banding-bandingin harganya memang lebih murah 10-20%.
Tak ayal, yang cewe dari rombongan kami langsung kalap dan memisahkan diri, dengan alibi “mau windows shopping” ~_~.
Terdapat area taman dan tempat duduk2 yang cukup luas disini, yang kami pakai untuk sholat.

Prince ski resort
20151230_135757000_iOS
Setelah berkeliling sedikit melihat2 area shopping, saya bersama seorang teman saya pergi ke area ski yang letaknya cuma 5 menitan dari tempat shopping, sementara para ibu-ibu masih sibuk “window shopping”..haha
Ga ada rencana buat main ski sama sekali, cuma pengen liat-liat aja. Dan untungnya, masuk area ski nya gratis. Kalo mau main baru bayar untuk sewa baju, peralatan, dan sebagainya. Kalo ga salah totalnya sekitar 5000an yen buat sehari.
Berhubung saya belum pernah (dan ga pernah mau) ikut ski, jadi ini kali pertama saya masuk ke area ski (gratis lagi..wkwk), lumayan lah ya. Waktu itu, belum semua pegunungannya tercover salju, jadi area skinya sepertinya tidak terlalu luas (cuma masih lumayan banget sih).
Beres main2 salju di area ski, saya balik lagi ke area shopping, dan mendapati si ibu-ibu ternyata masih belom beres (dasar!). Akhirnya kami nyemil2 dulu di area food court.

Karuizawa – Niigata
Pukul 16.20 perjalanan kami lanjutkan ke niigata. Keretanya rata2 pada sepi, jadi kami selalu dapat tempat duduk yang hadap2an, dan lagi2, menghabiskan waktu dengan main kartu. Ada satu permainan kartu favorit yang kami mainkan berkali2, haha, pengen deh nulisinnya sebagai satu postingan sendiri, karna banyak pelajaran hidup yang bisa diambil (halah).

Menginap di internet cafe
20151230_133552000_iOS
Karena waktu nyusun itinerary saya ga nemuin penginapan yang masuk budget, akhirnya kami memutuskan untuk nginap di internet cafe aja. Sekalian untuk pengalaman dan “cerita ke anak cucu”..haha
Kami memilih Airscafe, internet cafe yang letaknya tepat di depan stasiun niigata (bandai exit). Awalnya rada degdegan sih, bisa tidur apa ngga nanti di sana, cuma yaudah lah, pernah baca2 juga artikel kalo internet cafe kadang emang dipake buat nginap sama backpacker. Wong saya aja pernah nginep di warnet di depok dulu kok, masa disini gabisa.😛

Kami sudah mensurvey internet cafe ini sebelumnya, ada paket malamnya (6, 9, dan 12 jam), ada tempat yang tipenya lesehan jadi mungkin bisa dipake tidur, dan yang terpenting, ada shower nya.
Untuk bisa make tempat ini, kita harus buat member card dulu dan bayar 300¥.

Jujur, kami ga ngarep banyak2 sama internet cafe ini, tapi pas nyobain nginep disana, waaah puas banget. Semua diatas ekspektasi kami. Lantai tempat lesehannya empuk banget udah kayak kasur, ada drink bar free mulai dari berbagai soda, jus, teh, coklat, susu, kopi, segala ada, miso dan corn soup juga ada; ada komik ber rak-rak (bahasa jepang semua tapi), privasi terjaga banget, disediain selimut dan slipper, ada tempat duduk yang bisa dijadiin bantal, bahkan sampe ada deodoran buat sepatu juga..haha, top markotop lah pokoknya. Kalo saya bandingin dengan backpacker hotel, saya jauh lebih suka tempat ini. Buat showernya, kita perlu bayar 300¥ lagi, tapi disediain sikat gigi, alat cukur, sampo-sabun, dan hair dryer.

Alhamdulillah saya bisa tidur dengan nyenyak sambil nonton youtube di “kamar” sendiri (dan dengan harga yang super murah)😀
Rangkuman perjalanan hari pertama plus seluruh biayanya:
h1

2 thoughts on “Trip Barat Laut – Part 1 : Karuizawa

  1. Pingback: Trip Barat Laut – Part 2 : Niigata | an afterthought

  2. Pingback: Trip Barat Laut – Part 3 : Niigata – Minakami – Takasaki | an afterthought

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s